FORUM FASILITATOR

Wadah berbagi inspirasi dan pengalaman bagi kepala sekolah, guru, pengawas, dosen, masyarakat, dan siswa dalam membangun sekolah yang berhasil.

Ukur Kesehatan Pakai Meteran dan Timbangan

Ukur Kesehatan Pakai Meteran dan Timbangan
Mahasiwa menggunakan meteran untuk mengukur tinggi badan.

Universitas HKBP Nommensen, Medan - Berbadan tambun maupun kurus belum tentu tidak sehat. Cek kepastiannya dengan Indeks Masa Tubuh. Di FKIP Universitas HKBP Nommensen (UHN), mengukur indeks masa tubuh cukup pakai meteran dan timbangan badan.

Pematang Siantar menjelang sore ketika Bapak Aprido Simamora MPd, mengampu topik ‘Nikmatnya Sehat’ untuk mahasiswa Pendidikan Fisika Semester VI. UHN merupakan anggota LPTK konsorsium yang menerima manfaat dari program USAID PRIORITAS, dan Pak Aprido salah satu dosen yang kerap mengikuti pelatihan dari USAID PRIORITAS.

Kepada mahasiswa, ia mengatakan ada dua tujuan perkuliahan hari itu. Pertama, mahasiswa mampu mengana-lisis kriteria sehat berdasarkan indeks masa tubuh (Body Mass Index/BMI). Kedua, mahasiswa mampu menerap-kan hidup ke dalam kehidupan sehari-hari.

Membuka inti perkuliahan, Pak Aprido menunjukkan sejumlah gambar tumbuh manusia. Seorang pria berotot muncul di layar presentasi. “Apakah dia sehat?” tanya Pak Aprido. Mahasis-wanya yang mayoritas perempuan tertawa geli melihat foto itu. Mereka serentak menjawab,”Sehat!”

Kemudian Pak Aprido menunjukkan foto seorang laki-laki yang badannya kurus. Sekali lagi Pak Aprido bertanya,”Apakah pria kurus ini sehat?” Mahasiswa menjawab sambil menahan senyum, ”Dari fisik tidak!”

Orang yang sehat posturnya pas. Begitu pendapat mahasiswa mengomentari foto-foto yang ditunjukkan Pak Aprido. 
“Lantas bagaimana kita tahu bagaimana postur yang pas?”

Untuk menjawab pertanyaan ini, Pak Aprido meminta mahasiwanya membentuk kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5 orang. Kepada setiap kelompok, Pak Aprido memberikan Lembar Kerja. Mahasiswa diminta melakukan uji coba untuk mengisi Lembar Kerja. Mahasiswa secara bergantian mengukur tinggi badan semua anggota kelompoknya. Meteran yang biasanya digunakan tukang jahit digunakan sebagai alat ukur. Sedangkan untuk mengukur berat tubuh, mahasiswa menggunakan timbangan badan. Dari hasil ujicoba mahasiwa kemudian membuat tabel yang berisi data. Data yang disajikan adalah nama, berat tubuh, tinggi badan, indeks masa tubuh (body mass indeks/ BMI), dan katagori indeks masa tubuh.

Rumus untuk menghitung indeks masa tubuh adalah berat badan dibagi tinggi badan. Sedangan katagori indeks masa tubuh adalah:
BMI < 18,5 = berat badan kurang (underweight).
18,5 <BMI<24, 9 = berat badan normal
25 <BMI<29,9 = kelebihan berat badan (overweight)
BMI< 30 = Obsesitas

Setelah semua data tersaji, mahasiswa melakukan diskusi kelompok. Mereka harus menyusun laporan yang ditulis dalam kertas plano. Setelah itu mereka diminta mempresentasikan hasil uji cobanya. Mereka menempelkan tabel ujicoba lengkap dengan kesimpulannya. 

Mereka menulis nama teman sekelompok yang termasuk underweight, ideal, overweight dan bahkan obsesitas. Salah seorang anggota dari setiap kelompok ditunjuk sebagai juru bicara. Ia diminta menjawab setiap pertanyaan dari kelompok lain. 

Pak Aprido meminta mahasiswa melakukan kunjung karya. Mereka berkeliling untuk melihat hasil kerja kelompok yang lain. Mahasiswa diminta memberikan komentar atas kerja kawan-kawannya.
Setelah semua mahasiswa selesai mengunjungi hasil karya, Pak Aprido menutup perkuliahan. Pak Aprido mengatakan sehat adalah situasi sejahtera dari aspek tubuh, jiwa dan sosial. Kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh yang terdiri dari unsur fisik, mental dan sosial. “Berat badan adalah salah satu indikator kesehatan seseorang. Berat badan ideal dapat menunjukkan tingkat kesehatan seseorang. Walaupun orang dengan berat badan normal belum tentu sehat. Itu hanya salah satu indikator,” tukasnya.

Santa Sihombing, mahasiswa angkatan 2014 mengatakan perkuliahan active learning sangat menyenangkan dan membantu. Sejak ia tercacat menjadi mahasiswa, dosen tidak pernah mengajar dengan model active learning. Dosen hanya berceramah, menyuruh mahasiswa mencari sendiri atau mencatat dari buku.

”Tapi dalam perkuliahan hari ini, kita bisa share dengan dosen. Langsung praktik. Tidak hanya mendengar dosen bercerita, tapi kita tidak mengerti apa yang dijelaskan. Tapi dengan metode tadi kita bisa menangkap apa yang dikatakan dosen dengan mudah dan langsung kita lakukan,” terangnya.


comments powered by Disqus
Situs Web ini dikembangkan oleh Research Triangle Institute (RTI) International, Education Development Center (EDC), dan World Education (WE) untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama No. AID-497-C-12-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency untuk International Development atau Pemerintah Amerika Serikat. © 2012 RTI International, EDC, dan WE. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat.