FORUM FASILITATOR

Wadah berbagi inspirasi dan pengalaman bagi kepala sekolah, guru, pengawas, dosen, masyarakat, dan siswa dalam membangun sekolah yang berhasil.

Membangun Budaya Baca melalui Keteladanan: Gerakan Satu Buku Satu Guru

Maros, Sulawesi Selatan

Membangun Budaya Baca melalui Keteladanan:  Gerakan Satu Buku Satu Guru
Para kepala sekolah sedang bersama-sama membaca senyap sebelum memulai rapat kerja atau musyawarah kelompok kepala sekolah.

Oleh Irlidiya

Pengawas Sekolah dan   Fasilitator Daerah Maros 

Sebagai fasilitator Buku Bacaan Berjenjang USAID PRIORITAS yang juga pengawas di wilayah I Kecamatan Maros Baru, saya sangat tertantang untuk melaksanakan program gerakan  pembiasaan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Walaupun waktunya hanya 15 menit, tetapi  jika dilakukan terus-menerus, akhirnya akan menjadi budaya. 

Menurut saya, agar pembiasaan membaca di sekolah terlaksana dengan baik, hal yang perlu dilakukan adalah melalui keteladanan. Pengawas harus menjadi contoh bagi kepala sekolah dan guru, kepala sekolah harus menjadi contoh bagi  guru dan siswanya. Demikian juga guru pada siswanya.  Sebelum kepala sekolah menganjurkan warga sekolah membaca,  kepala sekolah harus membaca terlebih dahulu dan setidaknya ikut dalam program membaca di sekolahnya. Hal ini penting agar semua warga sekolah ikut dalam program membaca.

Beberapa strategi yang saya lakukan untuk membangun budaya baca di wilayah pengawasan saya antara lain: selalu membawa dan memperkenalkan buku, serta mengulas sedikit isi buku yang bertema peningkatan kualitas sekolah, baik ketika menghadiri kegiatan seperti rapat kepala sekolah, terlebih lagi jika mengunjungi sekolah binaan.  Selanjutnya, menganjurkan kepada kepala sekolah dan guru di sekolah di bawah pengawasan saya untuk membeli buku minimal satu buku setiap bulan. Saya menamakan gerakan ini gerakan one book one teacher. 

Buku-buku terkait dengan peningkatan kualitas pendidikan, misalnya menjadi kepala sekolah profesional, manajemen sekolah, dan lain-lain untuk kepala sekolah. Hal lain yang sedikit “ekstrim” yang saya lakukan adalah, tidak menandatangani berkas kepala sekolah dan guru sebelum mereka memperlihatkan buku yang telah dibelinya kepada saya. Saya memperlihatkan buku sambil bercanda, “Ini bukuku!” “Mana bukumu?” Para guru dan kepala sekolah di bawah pengawasan saya sudah aktif ikut dalam program ini.  

Selain itu, kami melakukan kegiatan membaca 15 menit sebelum melakukan pertemuan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), rapat berkala kepala sekolah dan kegiatan-kegiatan lainnya. Juga pada kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG). Setelah membaca buku, salah seorang  menyampaikan hasil bacaannya.

Kini budaya baca mulai tampak hasilnya. Beberapa sekolah sudah membuat taman baca. Kepala sekolah dan guru-guru yang dulunya tidak terbiasa membeli buku kini telah memiliki buku-buku bacaan. Salah satu sekolah pengawasan saya yang pertama kali menerapkan adalah SD No. 235 Inpres Tekolabbua. Karena keterbatasan ruangan akhirnya Kepala Sekolah Pak Azis membuat taman baca di teras kantor dan memajang buku-buku di jendela kantor. 

“Siswa-siswa sangat senang dan antusias membaca. Mereka datang lebih awal untuk membaca sambil menunggu gurunya datang. Saya sangat bersyukur dengan pembinaan yang dilakukan oleh pengawas kami dalam menerapkan budaya baca. Perlahan tapi pasti, mulai dari memperkenalkan pentingnya membaca, bahkan pada pertemuan kepala sekolah, kami semua membaca tidak terkecuali kepala UPTD,” ungkap Pak Azis dalam sebuah pertemuan kepala sekolah pada 28 Juli 2016.


comments powered by Disqus
Situs Web ini dikembangkan oleh Research Triangle Institute (RTI) International, Education Development Center (EDC), dan World Education (WE) untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama No. AID-497-C-12-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency untuk International Development atau Pemerintah Amerika Serikat. © 2012 RTI International, EDC, dan WE. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat.