FORUM FASILITATOR

Wadah berbagi inspirasi dan pengalaman bagi kepala sekolah, guru, pengawas, dosen, masyarakat, dan siswa dalam membangun sekolah yang berhasil.

Perbanyak Fasilitator dan Bentuk Sekolah Unggulan

Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

Perbanyak Fasilitator dan Bentuk Sekolah Unggulan
Para peserta pelatihan untuk pelatih untuk SD/MI sedang bersimulasi praktik IPA. Kabupaten Bandung Barat memperbanyak fasilitator pelatih dan pendamping pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Para fasilitator tersebut terdiri dari guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah yang selama ini berhasil menerapkan dan mendukung implementasi pembelajaran aktif di kelas.

Data dan Kebijakan

Kabupaten Bandung Barat memiliki 16 kecamatan yang tersebar di wilayah perkotaan sampai daerah pedesaan. Untuk mewujudkan masyarakat yang maju dan mampu bersaing di tingkat nasional, Kabupaten Bandung Barat memiliki visi, yaitu ”Bersama membangun masyarakat yang cerdas rasional maju agamis dan sehat berbasis pada pengembangan dan pemberdayaan potensi wilayah.” 

Wakil Bupati Bandung Barat, Bapak H. Yayat T. Soemitra, mengemukakan bahwa untuk mencapai visi Bandung Barat Cermat dibutuhkan peran serta semua pihak, termasuk pihak eksternal yang memiliki perhatian besar terhadap kemajuan pembangunan di Kabupaten Bandung Barat.

Untuk mewujudkan visi Kabupaten Bandung Barat, Disdikpora selaku leading sector dalam upaya membangun sumber daya manusia melalui pendidikan memfokuskan upaya pencapaian visi tersebut, melalui visi dari pendidikan di Kabupaten Bandung Barat, yaitu “Mewujudkan masyarakat Kabupaten Bandung Barat yang cerdas melalui pendidikan yang berkualitas dan terjangkau.” Berbagai upaya yang dilakukan dalam mewujudkan visi dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah raga kabupaten, salah satunya adalah menguatkan kerjasama antar lembaga di internal kabupaten seperti halnya mensinergikannya dengan Kemenag dan juga berbagai lembaga terkait pendidikan secara langsung ataupun tidak langsung.

Kepala Disdikpora Kabupaten Bandung Barat, Ibu Hj. Agustina Piryanti, mengungkapkan bahwa langkah yang dilakukan untuk mencapai core visi Disdikpora, melalui berbagai upaya, baik menggali potensi internal, maupun potensi eksternal. Terkait dengan penggalian potensi eksternal ini, di antaranya bekerja sama dengan USAID PRIORITAS untuk melakukan akselerasi kualitas pendidikan. Berbagai treatment dari USAID PRIORITAS dimanfaatkan terus oleh Disdikpora untuk menjadi bagian yang berkontribusi terhadap akselerasi kulitas pendidikan.

Saat ini Kabupaten Bandung Barat memiliki kerja sama yang sangat erat dan konstruktif dengan USAID PRIORITAS.  Ada berbagai capaian yang telah dilakukan secara makro pada tingkat kebijakan di kabupaten dalam upaya pemerataan dan penataan guru.

Pemerataan dan Penataan Guru (PPG) telah melahirkan produk-produk kebijakan seperti:

1) Perbup Kabupaten Bandung Barat No. 38 Tahun 2015 tentang PPG, 

2) Perbup Kabupaten Bandung Barat No. 39 Tahun 2015 tentang Pedoman Teknis Penggabungan SD Negeri 

3) Perbup Kabupaten Bandung Barat No. 20 Tahun 2015 tentang Pengangkatan, Pemindahan dan Pemberhentian Kepala Sekolah

 

Rumusan Kebijakan PKB di Kabupaten Bandung Barat

Rumusan kebijakan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) di Kabupaten Bandung Barat didasarkan pada luasnya wilayah dan besarnya sasaran yang harus di sentuh. Pada pendidikan dasar di kabupaten memiliki 704 SD, 196 MI dan 152 SMP serta 127 MTs.  Ada 8.432 guru SD, 1.951 guru MI dan 2645 guru SMP serta 2.040 orang guru MTs. Banyaknya sekolah dan guru yang harus mendapatkan program peningkatan mutu menjadi dasar dari bagaimana kebijakan PKB dilakukan.

Sekretaris Disdikpora Kabupaten Bandung Barat, Bapak H. Imam Santoso, memaparkan bahwa kebijakan yang diterapkan pada Disdikpora memanfaatkan berbagai temuan dan data dari USAID PRIORITAS. Upaya pemanfaatan data ini di antaranya terkait dengan penyebaran guru jenjang pendidikan SD dan SMP. Dengan demikian, penyebaran guru pada kedua jenjang tersebut akan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Ada beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh Kabupaten Bandung Barat dalam PKB di antaranya lihat bagan diatas.

1) Menambah Fasda

Penambahan fasilitator daerah (fasda) didasarkan oleh banyaknya sasaran guru yang harus mendapatkan dampak dari pelatihan dan pendampingan, sedangkan ketersediaan fasda yang telah dibentuk oleh USAID PRIORITAS (15 fasda SD/MI, 15 fasda SMP/MTs dan tujuh fasda buka bacaan berjenjang) dirasakan sangat kurang untuk memberikan pelayanan pada 8.432 guru SD, 1.951 guru MI dan 2645 guru SMP serta 2.040 guru MTs yang tersebar pada 16 kecamatan. Kebijakan penambahan fasda ini dilakukan mulai tahun 2015-2016, dengan tujuan semakin banyaknya fasilitator daerah semakin banyak peluang untuk mendorong secara masif peningkatan kualitas pendidikan di Bandung Barat. 

 

2) Diseminasi tingkat Gugus

Diseminasi pada tingkat gugus menjadi salah satu kebijakan PKB di Kabupaten Bandung Barat, yaitu dengan secara masif mendorong pengurus-pengurus gugus untuk mengadopsi dan melaksanakan pelatihan dan pendampingan dari program USAID PRIORITAS, di luar gugus mitra USAID PRIORITAS.

3) Pembentukan Gugus Model

Tujuan dari pembentukan gugus model, khususnya pada tingkat SD ditujukan agar, dalam setiap kecamatan di Kabupaten Bandung Barat memiliki minimal satu gugus yang sudah dapat dijadikan model bagi gugus-gugus di lingkungan kecamatan tersebut. Sehingga terdapat kurang lebih 16 gugus SD model di Kabupaten Bandung Barat.

 

Implementasi Kebijakan Penambahan Fasda

Implementasi penambahan fasda baru di Kabupaten Bandung Barat bersumber dari dana APBD. Peranan USAID PRIORITAS dalam membantu merealisasikan penam-bahan fasda baru adalah dalam hal bantuan dari tim fasilitatornya serta membantu mengkordinasikan antara Disdikpora dan juga Kemenag. 

Penambahan fasda baru difokuskan pada penambahan fasda SD dan SMP. Disdikpora selaku pelaksana dalam penambahan fasda baru di Kabu-paten Bandung Barat mengakomodir juga madrasah yang berada di wilayah Kemenag, artinya bahwa peserta dari TOT pelatihan tingkat kabupaten tersebut mengikutser-takan dari MI dan MTs.

Pada tahun 2015 kurang lebih ada enam pelatihan yang bentuknya TOT, seperti halnya TOT minat baca. Tujuannya selain membentuk fasda baru di Kabupaten Bandung Barat, juga diarahkan mereka sebagai duta baca di setiap gugusnya. 

Pembentukan duta baca tersebut bukan hanya di SD dan MI saja, tetapi pada SMP dan MTs juga. Fasda-fasda tersebut dijadikan fasilitator tersebar pada setiap gugus di Kabupaten Bandung Barat, sehingga gugus di kabupaten dalam melakukan pelatihan dan pendampingan secara mandiri dapat terbantu dengan hadirnya fasda-fasda tambahan. 

Dana yang dikeluarkan dalam penambahan fasda ini 100% dari APBD termasuk biaya fasilitator dari USAID PRIORITAS dibiaya oleh APBD. Total biaya yang dikeluarkan dari APBD Kabupaten Bandung Barat sebesar kurang lebih Rp.710.000.000.

Yang sangat menarik adalah peserta TOT bukan hanya dari lingkungan Disdikpora Kabupaten Bandung Barat saja, tetapi madrasah yang ber-ada di lingkungan Kemenag. Artinya bahwa kurang lebih 20-25% peserta pelatihan adalah dari MI dan MTs.

Pada tahun 2016, TOT diseminasi lanjutan, fasda yang dilatih Modul 1 dan 2 pada tahun 2015 - 2016 dilatih kembali Modul 3, sehingga fasda-fasda baru tersebut sepenuhnya mendapatkan paket modul dari USAID PRIORITAS. 

Pendekatan yang dilakukan juga sama mengadopsi dari pelatihan yang dilakukan oleh USAID PRIO-RITAS, artinya di samping pemaha-man tentang konsep, menganalisa sampai mempersiapkan pembela-jaran dan praktik mengajar secara langsung. Dana APBD yang diguna-kan khusus untuk TOT sebesar kurang lebih Rp.900.000.000 untuk semua TOT dalam berbagai kegiatan.

 

Implementasi Kebijakan Diseminasi Tingkat Gugus

Setelah dilaksanakannya TOT tingkat kabupaten, maka langkah selanjutnya dilakukan pelatihan-pelatihan tingkat gugus. Pada tingkat SMP/MTs sudah dilakukan di beberapa gugus, di antaranya gugus Parongpong, gugus Batujajar dan diintegrasikan dengan hibah Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang melatih beberapa guru pada MGMP IPA, MGMP IPS, MGMP Matematika, MGMP Bahasa inggris dan MGMP Bahasa Indonesia.

Pada tingkat SD/MI sudah dilakukan di beberapa gugus, diantaranya, gugus Cipatat, gugus Gununghalu, gugus Sindangkerta, gugus Cililin gugus Cipeunduey dan gugus Cihampelas. 

Penyebarluasan program USAID PRIORITAS juga dilakukan dengan program diseminasi pada gugus sekolah dengan melibatkan para pengurus Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Kelompok Kerja Madrasah (KKM) untuk SD/MI dan KKM serta MGMP untuk SMP/MTs. Kegiatan ini dilakukan dengan melatih 225 perwakilan pengurus KKG /KKM, 125 pengurus MGMP untuk pengembangan program pembelajaran dan budaya baca di sekolah, serta 125 Kepala SD dan 75 Kepala SMP untuk pengembangan program MBS, yang dilaksanakan pada Oktober 2015. 

Program ini dilaksanakan agar penyebarluasan program USAID PRIORITAS diteruskan oleh para pengurus gugus dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) di sekolah yang ada di wilayah gugusnya. Diseminasi juga dilakukan terhadap gugus SD/MI yang mengajukan permohonan pelaksanaan pelatihan dengan fasilitator dari USAID PRIORITAS.

 

Implementasi Pembentukan Gugus Unggulan

Pada tahun 2016, jajaran stakeholder pendidikan Kabupaten Bandung Barat mengembangkan program USAID PRIORITAS ini dengan pembentukan gugus model atau gugus unggulan dengan prioritas 18 gugus sekolah dasar dan enam MI serta MGMP SMP yang dibiayai dana APBD. Pelatihan yang diberikan pada gugus ungggulan ini mencapai 122 SD dan 18 MI. 

Berdasarkan bagan di samping bahwa beberapa treatment yang dila-kukan pada gugus-gugus model atau unggulan di Kabupaten Bandung Barat, yaitu dengan melatih semua kepala sekolah di gugus tersebut, melatih guru untuk PAKEM dan buku bacaan berjenjang, serta yang penting juga melatih seluruh peng-awas bina gugus tersebut sehingga berbagai aspek nilai keunggulan dari sekolah yang berada pada gugus tersebut dapat cepat meningkat.

Gugus ini dilatih secara utuh untuk perwakilan guru dari tiap sekolah yang mendapatkan pelatihan pembelajaran dan kepala sekolahnya mendapatkan pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) juga pengawasnya mendapatkan pelatihan untuk pendampingan sekolah dalam pembelajaran, budaya baca, dan MBS. 

Pembentukan gugus unggulan ini diharapkan di setiap kecamatan memiliki barometer sekolah yang utuh dalam satu gugus sebagai model pelaksanaan praktik yang baik dalam pembelajaran, MBS, dan monitoring dan evaluasi oleh pengawas bina. Sehingga pada setiap kecamatan di Kabupaten Bandung Barat memiliki minimal satu gugus model yang akan bertugas menyebarluaskan kembali kepada gugus-gugus lainnya.

Kendala dan Solusi dalam Implementasi Kebijakan 

Penyebarluasan praktik yang baik dalam pembelajaran dan MBS ini tidak bisa dilaksanakan secara sekaligus dan serempak untuk seluruh wilayah Kabupaten Bandung Barat, karena keterbatasan anggaran dan kesempatan. Sebagai solusinya, kabupaten melaksanakan penyebarluasan program ini secara bertahap dalam setiap tahun dan diharapkan pada tahun 2017 semua SD/MI dan SMP/MTS dapat melaksanakan praktik yang baik dalam pembelajaran, MBS dan budaya baca ini.

 

Dampak Kebijakan PKB di Kabupaten Bandung Barat

Dampak dari Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang dilaksanakan di kabupaten ini, dari tahun 2015 sampai sekarang banyak kemajuan yang dilaksanakan para guru di sekolah berupa praktik yang baik dalam pembelajaran dan MBS yang terus mengalami peningkatan dan juga budaya baca. Peningkatan ini berupa peningkatan mutu pem-belajaran berupa praktik yang baik dalam pembelajaran yang dilakukan guru di kelas dengan penyediaan berbagai kegiatan pembelajaran yang disesuaikan dengan tuntutan kurikulum yang berlaku. 

Di Kabupaten Bandung Barat ber-munculan sekolah unggulan dalam pembelajaran. Beberapa sekolah mitra USAID PRIORITAS berhasil meraih prestasi di tingkat provinsi dan nasional dalam lomba budaya mutu SD. Setelah SDN 2 Rajamandala kulon menjadi juara ketiga tingkat nasional pada kategori whole school tahun 2015, kemudian pada tahun 2016 dilanjutkan oleh sekolah-sekolah yang berada pada gugus model, seperti SD Karangmulya dan SD Kartika yang meraih juara budaya mutu tingkat Provinsi Jawa Barat dan masuk ke tingkat nasional.


comments powered by Disqus
Situs Web ini dikembangkan oleh Research Triangle Institute (RTI) International, Education Development Center (EDC), dan World Education (WE) untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama No. AID-497-C-12-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency untuk International Development atau Pemerintah Amerika Serikat. © 2012 RTI International, EDC, dan WE. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat.