FORUM FASILITATOR

Wadah berbagi inspirasi dan pengalaman bagi kepala sekolah, guru, pengawas, dosen, masyarakat, dan siswa dalam membangun sekolah yang berhasil.

MI Islamiyah Alwathaniyah Pilih Pertahankan ABK

MI Islamiyah Alwathaniyah Pilih Pertahankan ABK
Adelia Permata Agustin, siswa ABK lambat belajar juara 3 dalam lomba story telling yang diselenggarakan madrasah pada acara Milad ke 70 untuk memupuk dan meningkatkan keberanian siswa.

JOMBANG, JAWA TIMUR – MI Islamiyah Alwathaniyah, merupakan satu di antara madrasah mitra USAID PRIORITAS  di Kabupaten Jombang. Madrasah ini memiliki tiga program pembelajaran, yaitu kelas regular, kelas internasional, dan kelas inklusif. Madrasah juga menyediakan seorang native speaker untuk meningkatkan kualitas bahasa Inggris siswa dan pengajar di kelas internasional.

Madrasah ini memiliki 253 siswa, yang 26 siswa di antaranya termasuk dalam kategori ABK. Kekhususan yang dimiliki diantaranya 1 siswa kurang mendengar, 8 siswa hiperaktif, dan 17 siswa lambat belajar.  

Abd. Fattah SS, sang kepala madrasah yang masih muda dan energik, pernah belajar tentang pendidikan inklusif selama 6 bulan di Sekolah Madania Parung Bogor yang berada di bawah naungan Universitas Paramadina.

Penerapan sistim pendidikan inklusif sudah mulai dari pendaftaran. Siapa pun anak yang mendaftarkan diterima semua selama masih ada tempat. Setiap orang tua yang datang mendaftarkan anaknya akan mengikuti proses wawancara bersama anaknya. Hal ini untuk mengetahui peta kemampuan anak sehingga madrasah dapat menentukan kebijakan dan strategi pembelajaran yang sesuai bagi anak. Dengan demikian diharapkan setiap anak dapat memperoleh layanan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhannya.

Guru kelas 1 sedang memberikan bimbingan kepada Dhenok Maia Ardita, siswa ABK yang mengalami keterbatasan pendengaran.

Strategi yang diterapkan madrasah ini untuk melayahi pembelajaran siswa ABK antara lain:

  1. Proses pembelajaran di kelas 1 – III dibimbing oleh dua orang guru dengan model team teaching. Seorang guru menyampaikan materi untuk semua siswa dan guru lainnya bertugas mendampingi siswa ABK agar bisa mengikuti proses belajar.
  2. Ada sesi parenting untuk orang tua siswa ABK. Mulai awal masuk madrasah dan 6 bulan berikutnya, orang tua mendapat pendampingan melalui paguyuban kelas. Tujuannya agar terjadi pemahaman yang sama antara pihak madrasah dengan orang tua siswa.
  3. Adanya buku komunikasi yang menjadi media penghubung antara guru dengan orang tua ABK. Guru dan orang tua bisa mengetahui perkembangan ABK, baik di rumah maupun di madrasah. Hal ini untuk mempermudah dalam menentukan tahapan bimbingan selanjutnya.
  4. Madrasah juga menyediakan kelas khusus untuk pelajaran tambahan bagi ABK dan siswa lain yang kesulitan maupun ketinggalan pelajaran.
  5. Ada program pengembangan bakat anak sesuai dengan bakat dan minat setiap siswa.

Ada peristiwa menarik yang membuktikan komitmen kepala madrasah terhadap layanan pembelajaran bagi siswa ABK. Pada saat orang tua mengetahui bahwa madrasah menerima siswa ABK, banyak orang tua yang belum memahami ABK dan pendidikan inklusif, mengancam akan memindahkan anaknya. Namun kepala madrasah lebih memilih mempertahankan ABK.

Guru memberikan bimbingan pada siswa ABK secara perorangan di luar jam belajar.

Menurut pertimbangannya, siswa yang normal bisa dengan mudah mencari madrasah lain, sedangkan siswa ABK akan mengalami kesulitan mencari madrasah karena tidak setiap madrasah bisa menerima mereka. Seiring waktu dan setelah mengetahui dampak positif program madrasah tersebut, orang tua kini bisa menerimanya.

Madrasah juga mengikutsertakan siswa ABK dalam kejuaraan sampai tingkat nasional. Pada saat acara Joyful camp yang diikuti oleh sekolah internasional seluruh Indonesia pada bulan Desember 2015, madrasah ini mendapat 9 tropi dan 2 di antaranya diraih oleh ABK nama Gunawan Syahputra, siswa ABK hiperaktif dan lambat belajar juara 2 dalam lomba matematika kelas V, dan Muhammad Roudlatul Hidayat, siswa ABK keterbatasan penglihatan juara I dalam lomba story telling kelas VI. (Wsa)

 

 

 


comments powered by Disqus
Situs Web ini dikembangkan oleh Research Triangle Institute (RTI) International, Education Development Center (EDC), dan World Education (WE) untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama No. AID-497-C-12-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency untuk International Development atau Pemerintah Amerika Serikat. © 2012 RTI International, EDC, dan WE. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat.