FORUM FASILITATOR

Wadah berbagi inspirasi dan pengalaman bagi kepala sekolah, guru, pengawas, dosen, masyarakat, dan siswa dalam membangun sekolah yang berhasil.

Kerja Sama Efektif GPK, Guru Kelas, dan Orang Tua dalam Pendidikan Inklusif di SDN Giwangan

Kerja Sama Efektif GPK, Guru Kelas, dan Orang Tua dalam Pendidikan Inklusif di SDN Giwangan
GPK sedang mengobservasi perkembangan ABK. Dalam observasi ini, orang tua biasanya dihadirkan untuk mengetahui perkembangan anaknya.

YOGYAKARTA – SDN Giwangan merupakan salah satu sekolah penyelenggara pendidikan inklusif terlama di Yogyakarta. Sekolah ini merupakan mitra Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) terkait program kemitraan dengan USAID PRIORITAS untuk meningkatkan mutu sekolah mitra LPTK.  Ada 19 siswa ABK (anak berkebutuhan khusus) yang tersebar di semua kelas.

“Siswa ABK di sekolah ini kebanyakan ABK dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau gangguan pemusatan perhatian/konsentrasi dan hiperaktif), tuna daksa, tuna grahita, dan autis,” kata Siyam Mardini, Kepala SDN Giwangan.

Para guru kelas di sekolah ini juga telah mendapatkan pelatihan dari USAID PRIORITAS. Mereka dilatih mengelola pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individu siswa dan penerapan PAKEM.

Saat ini ada 8 orang GPK (Guru Pendamping Khusus), satu orang GPK dibantu dari Dinas Pendidikan Provinsi DIY, dua orang GPK dibiayai dari Bosda kota, dan lima orang GPK dibiayai oleh orang tua siswa yang mampu sesuai kebutuhan. Sekolah juga memiliki forum inklusif orang tua siswa ABK. Pihak sekolah dan orang tua rutin mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan tentang manajemen sekolah dan kendala-kendala dalam pengelolaan pendidikan inklusif.

Para siswa ABK sedang belajar membuat mozaik di ruang sumber yang didampingi GPK.

Berikut adalah beberapa strategi pembelajaran yang diterapkan sekolah dalam memfasilitasi ABK, terutama yang melibatkan kerja sama GPK, guru kelas, dan orang tua:

  1. Integratif, siswa ABK dan nonABK berbaur belajar bersama dalam satu kelas.
  2. GPK membimbing ABK di kelas agar bisa belajar bersama siswa nonABK dengan nyaman, dan sebaliknya.
  3. Setiap Jum'at dan Sabtu, siswa ABK belajar di ruang inklusif/ruang sumber untuk melihat perkembangan belajar siswa ABK.
  4. Sekolah mendatangkan psikolog setiap Kamis. Jika ada siswa ABK yang membu-tuhkan terapi, bisa langsung diterapi.
  5. Para guru GPK rutin saling bertemu untuk berbagi pengalaman dalam membimbing siswa ABK.
  6. GPK menyusun program pembelajaran individual (PPI) berdasarkan hasil asesmen kompetensi dan diserahkan kepada guru kelas. PPI yang sudah disusun dikirim ke Dikpora untuk mendapat masukan.
  7. Kepala sekolah, guru kelas, dengan GPK setiap tahun bertemu mengevaluasi PPI, untuk mengetahui perkembangan dan masalah yang dihadapi.
  8. GPK mendapat honor setiap bulan dari sekolah dan dari dinas pendidikan.
  9. Orang tua siswa bisa langsung berkomunikasi dengan GPK untuk mengetahui perkembangan dan kendala yang dialami oleh anaknya.

Untuk proses evaluasi belajar siswa ABK dilakukan dengan cara sebagai berikut. (1) GPK bekerja sama dengan guru kelas dengan memberikan tugas bersama; (2) ABK yang tidak mempunyai GPK akan ditanyakan langsung ke guru kelas; (3) UTS dan UAS diserahkan ke GPK; (4) Untuk ABK tuna grahita, low vision, dan autis, soalnya dibuat khusus oleh GPK. (Wsa)


comments powered by Disqus
Situs Web ini dikembangkan oleh Research Triangle Institute (RTI) International, Education Development Center (EDC), dan World Education (WE) untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama No. AID-497-C-12-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency untuk International Development atau Pemerintah Amerika Serikat. © 2012 RTI International, EDC, dan WE. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat.