FORUM FASILITATOR

Wadah berbagi inspirasi dan pengalaman bagi kepala sekolah, guru, pengawas, dosen, masyarakat, dan siswa dalam membangun sekolah yang berhasil.

Belajar Adaptasi dan Seleksi Alam dari Kupu-Kupu yang Punah

Oleh Tina Mardiana SPd Guru SMPN 1 Bendahara, Aceh Tamiang

Belajar Adaptasi dan Seleksi Alam dari Kupu-Kupu yang Punah
Siswa melakukan pengamatan di halaman sekolah.

ACEH TAMIANG, ACEH – Banyak siswa mengaku senang belajar Biologi karena apa yang dipelajari dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tetapi Biologi yang faktual tidak cukup hanya teori saja, karena belajar Biologi perlu pemahaman mendalam, terutama mengajarkan siswa mengaplika-sikan Biologi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kami membuat media sederhana untuk memberi pemahaman materi Adaptasi dan Seleksi Alam yaitu menggunakan media Kupu-Kupu “Biston betularia”.  

Bahan yang digunakan adalah papan triplek, paku kecil, kain berwarna hitam, gunting, kertas warna (putih, kuning, hijau, biru, merah, hitam), peniti kecil dan selotip perekat. Papan triplek dipotong dengan ukuran 30 X 40 cm sebanyak 4 lembar. Selanjutnya papan triplek yang sudah dibentuk dan ditutup dengan kain hitam yang dianalogikan sebagai jelaga/asap hitam akibat pencemaran udara. Potong kertas menjadi bentuk kupu-kupu masing-masing warna beberapa buah. Gunakan peniti sebagai badan kupu-kupu. Bungkus peniti dengan kertas yang warnanya sama dengan sayap kupu-kupu. Kemudian badan kupu-kupu yang terbuat dari peniti dipasang di papan triplek yang sudah dilapisi kain hitam.

Selanjutnya, siswa dibagi menjadi 5 kelompok kecil (sesuai jumlah media).  Di setiap kelompok, seorang siswa bertugas memegang papan triplek yang berisi kupu-kupu Biston betularia. Siswa lain bertindak sebagai predator dengan cara menghitung jumlah kupu-kupu dari jarak yang semakin jauh. Siswa yang menjadi predator menggunakan lembar pengamatan.

Media Biston Betularia.

Jumlah kupu-kupu yang terlihat adalah kupu-kupu yang akan dimangsa oleh mereka (predator). Kupu-kupu yang tidak terlihat adalah kupu-kupu yang selamat dan akan meneruskan generasi Biston betularia.  

Proses berikutnya adalah menganalisis lembar pengamatan siswa. Hasilnya kupukupu yang berwarna cerah  lebih banyak yang menjadi mangsa predator, sedangkan yang berwarna gelap hanya sedikit menjadi mangsa. Hal tersebut terjadi karena kupukupu yang berwarna gelap lebih sulit terlihat oleh predator karena lingkungan tertutup oleh jelaga atau asap polusi.  

Lembar pengamatan warna kupu-kupu.

Kesimpulannya, kupu-kupu Biston betularia yang berwarna cerah punah akibat tidak mampu beradaptasi terhadap lingkungan yang berubah menjadi gelap dan kotor pada masa revolusi industri di Inggris. Sebelum revolusi industri, Biston betularia yang berwarna hitam banyak dimangsa oleh predator. Tetapi saat revolusi industri terjadi dan asap hitam mencemari udara, Biston betularia yang berwarna gelap lebih adaptif dibanding dengan yang berwarna cerah. Peristiwa ini terjadi karena adanya proses adaptasi dan seleksi alam.  

Dengan menggunakan media ini,  siswa memahami keterkaitan antara adaptasi dengan seleksi alam. Siswa dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan agar tetap lestari dan terhindar dari kepunahan. “Saya jadi mengerti mengapa ada hewan yang mengalami kepunahan, sedangkan hewan lainnya ada yang masih bertahan hidup dan tetap lestari.” kata Winda, salah seorang siswa kelas IX.


comments powered by Disqus
Situs Web ini dikembangkan oleh Research Triangle Institute (RTI) International, Education Development Center (EDC), dan World Education (WE) untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama No. AID-497-C-12-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency untuk International Development atau Pemerintah Amerika Serikat. © 2012 RTI International, EDC, dan WE. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat.