FORUM FASILITATOR

Wadah berbagi inspirasi dan pengalaman bagi kepala sekolah, guru, pengawas, dosen, masyarakat, dan siswa dalam membangun sekolah yang berhasil.

Perpustakaan Suplai Buku untuk Sudut Baca di Kelas

Perpustakaan Suplai Buku untuk Sudut Baca di Kelas
Siswa SMPN 1 Cikoneng saat membaca senyap.

CIAMIS, JAWA BARAT – Para siswa duduk berkelompok di dalam kelas. Masingmasing membaca buku bacaan. Ada yang membaca cerita rakyat, novel, atau bukubuku ilmu pengetahuan. Buku-buku tersebut tersedia di sudut baca kelas. Itulah suasana pagi di SMPN 1 Cikoneng.

Kegiatan membaca senyap dilakukan 15 menit setiap pagi sesudah membaca Al Quran dan sebelum pembelajaran dimulai. SMPN 1 Cikoneng juga mempunyai jam membaca bersama setiap Jumat selama 25 menit. Jam membaca bersama ini dipakai untuk membaca buku dan membuat catatan dari buku yang dibaca oleh siswa. 

“Setiap siswa memiliki buku catatan untuk membuat resume,” kata Garnis Cipta Prawesti guru bahasa Indonesia kelas VIII. Setiap kelas memiliki sudut baca. Perpustakaan sekolah yang mengelola dan menyediakan buku-buku untuk sudut baca di setiap kelas. “Buku di kelas diganti sesuai dengan permintaan kelas tersebut. Kalau buku-bukunya telah selesai dibaca, maka siswa membawanya ke perpustakaan untuk ditukar,” kata Dadan Ramdhani, petugas perpustakaan.

Penggantian buku secara berkala ini membuat buku-buku selalu berganti di sudut baca kelas. Dengan jumlah koleksi 1.700 buku fiksi dan 1.564 buku nonfiksi, maka perpustakaan mampu menyediakan buku untuk sembilan kelas yang ada. Perpustakaan juga menyediakan “Kereta Baca” untuk mendekatkan buku kepada siswa. Siswa bisa memilih buku bacaan di Kereta Baca saat mereka istirahat. 

Perpustakaan SMPN 1 Cikoneng tidak terlalu besar, namun penataannya sangat apik. Buku-buku dipajang di rak-rak rendah. Tersedia juga meja-meja baca kecil di atas karpet merah biru. Buku-buku mata pelajaran dipisahkan dalam ruangan khusus sehingga tidak memenuhi ruang perpustakaan. “Kami selalu membeli buku bacaan baru setiap tahun dengan menggunakan dana BOS,” tambah Dadang.

Penggunaan dana BOS untuk membeli buku ini sudah dilakukan sejak tahun 2014, sejak SMPN 1 Cikoneng mendapatkan pelatihan Budaya Baca dari USAID PRIORITAS.  Program Budaya Baca di SMPN 1 Cikoneng masuk menjadi program sekolah. “Kegiatan dan anggaran program budaya baca ada di RKAS,” jelas Dindin Hardi kepala sekolah.

Kepala sekolah juga mengupayakan infaq buku dari orangtua siswa setiap tahunnya. Orangtua membelikan buku bacaan untuk anaknya saat sekolah mengadakan bazar buku. Dengan cara ini buku yang disumbang orangtua adalah buku-buku yang cocok untuk dibaca siswa SMP.

“Sebab buku yang dijual dalam bazar buku sudah diseleksi oleh penerbit bersama guru bahasa Indonesia,” kata  Elsye Rosliana, guru bahasa Indonesia. “Bazar yang dilakukan di awal tahun kemarin mendapatkan infaq buku senilai Rp. 45 juta dari orangtua,” imbuhnya. (Hw)


comments powered by Disqus
Situs Web ini dikembangkan oleh Research Triangle Institute (RTI) International, Education Development Center (EDC), dan World Education (WE) untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama No. AID-497-C-12-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency untuk International Development atau Pemerintah Amerika Serikat. © 2012 RTI International, EDC, dan WE. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat.