FORUM FASILITATOR

Wadah berbagi inspirasi dan pengalaman bagi kepala sekolah, guru, pengawas, dosen, masyarakat, dan siswa dalam membangun sekolah yang berhasil.

Ciptakan Siswa Kreatif melalui Bahasa Indonesia

Ciptakan Siswa Kreatif melalui Bahasa Indonesia
(Kiri) Cerpen halaman satu dari tiga halaman karya siswa yang ide ceritanya diambil dari foto. (Kanan) Siswa saling menceritakan karya fabel buatannya secara bergiliran di kelompok.

TANGERANG, BANTEN – Ahmad Hanapiyah, guru MTsN 2 Tangerang, membuat siswa yang belajar bahasa Indonesia tidak hanya mampu berbahasa Indonesia yang baik, tetapi berhasil membuat siswanya kreatif. Berikut adalah beberapa pembelajaran di kelas VII dan IX yang dia fasilitasi.

Gunakan Foto Agar Siswa Menulis Cerpen

Menulis cerita pendek berdasarkan foto dapat membantu siswa kelas IX yang kesulitan dalam mencari ide penulisan. Pembelajaran ini bertujuan agar siswa dapat menulis cerita pendek berdasarkan peristiwa nyata yang dialami siswa. Peristiwa dan pengalaman siswa itu terdapat dalam foto yang dibawa siswa.

Sebelum pembelajaran siswa diminta untuk membawa foto dirinya bersama keluarga atau teman dalam suatu peristiwa atau kegiatan. Untuk menemukan inspirasi menulis, siswa diberi kesempatan untuk mengamati orang-orang dalam foto, mengingat kejadian bahkan mungkin konflik yang muncul. Kemudian hasil pengamatan dan pengalaman siswa tersebut dituangkan dalam lembar kerja yang menyangkut kata kunci 'apa, mengapa, bagaimana, siapa, di mana dan kapan'. Setelah itu siswa membuat garis besar ide cerita yang akan ditulisnya.

Langkah selanjutnya, siswa diminta berpasangan dengan teman yang duduk di sebelahnya. Teknik curhat (curah pendapat) dilakukan dengan tujuan melatih dan menggali kedalaman dan kelancaran ide penulisan cerpen. Berdasar curhat tersebut, siswa mengembangkan garis besar cerita menjadi tulisan cerita pendek. Usai menulis, cerpen karya siswa saling ditukar dengan teman.

Kemudian secara berkelompok siswa menyatukan lembaran cerpennya ke dalam satu kumpulan cerpen. Siswa berbagi peran, ada yang menjadu ilustrator sampul, penulis kata pengantar, penyusun cerpen secara alfabetis, dan penjilid. Hasilnya, ada empat kumpulan cerpen dalam satu kelas. Siswa merasa senang dengan pembelajaran ini dan merasa tidak kesulitan untuk menulis.

Menceritakan Fabel dengan Peta Konsep dan Cerita Berpasangan

Fabel menjadi salah satu materi pembelajaran di kelas VII.6 yang saya bimbing di semester dua. Fabel ini dapat dipelajari secara teks maupun lisan. Kemampuan membaca teks fabel berupa memahami fungsi, struktur, dan ciri kebahasaan fabel. Kemampuan tersebut menjadi dasar dalam kemampuan lisan yaitu menceritakan fabel. Saya menerapkan teknik pembuatan peta konsep garis besar cerita dan cerita berpasangan.

Pada pertemuan sebelumnya, siswa diberikan tugas untuk mencari teks fabel dari buku cerita, majalah, atau internet. Mereka boleh mencatat ulang teks, membawa buku atau majalahnya, serta mencetak dari internet. Guru memastikan bahwa yang dibawa siswa benar merupakan fabel.

Di awal pembelajaran, siswa mencurahkan pendapat tentang manfaat menceritakan fabel dan pengalaman mereka bercerita.  Siswa lalu menyimak cerita fabel yang disampaikan oleh guru. Guru lalu bertanya kepada siswa tentang hal-hal apa saja yang harus dikuasai saat seorang bercerita seperti yang guru contohkan. Siswa lalu menyimpulkan hal-hal yang harus dikuasai dalm bercerita yaitu struktur cerita atau garis besar cerita, volume suara, intonasi, ekspresi, dan interaksi.  

Kegiatan berikutnya, siswa secara individu membaca fabel dari teks masing-masing. Selanjutnya, mereka menuliskan garis besar cerita atau struktur fabel ke dalam peta konsep. Struktur peta konsep itu terdiri dari orientasi (pengenalan tokoh, latar), komplikasi (masalah), resolusi (penyelesaian), dan koda (perubahan nasib tokoh dan pesan cerita).

Tujuan pembuatan peta konsep ini agar siswa memahami garis besar cerita sehingga memudahkan mereka untuk menceritakan kembali isi fabel. Untuk menarik minat, guru mempersilakan siswa membuat gambar peta konsep yang beragam sesuai keinginan siswa. Ada yang berupa kotak, segitiga, awan, bahkan kepala binatang sesuai tokoh cerita seperti kancil, gajah, dan kura-kura. Dalam menentukan struktur ini, siswa tidak menemukan masalah karena sudah pernah membuat analisis struktur fabel dalam materi pertemuan sebelumnya. Setelah itu, siswa berpasangan dengan teman di sebelahnya untuk berlatih bercerita secara bergantian. Mereka saling bertukar peta konsep dan memberi tahu temannya jika ada garis besar cerita yang terlewatkan. Siswa bercerita garis besar cerita menggunakan kalimat sendiri dan tidak harus sama dengan kalimat teks sehingga tidak terpaku pada teks atau hapalan.

Pada saat bercerita, tampak siswa ada yang tersendat-sendat, ada yang tertawa, ada yang saling mengingatkan, terlihat akrab dan antusias. Mereka diminta untuk mengomentari kejelasan volume suara, kelancaran bercerita, variasi intonasi, serta kontak mata.

Selanjutnya, siswa berkelompok dan ditugaskan untuk bercerita secara bergiliran di dalam kelompok masing-masing. Sebagai panduan penilaian bercerita teman, siswa berpandu pada lembar pengamatan penilaian bercerita yang merupakan kesepakatan pada awal pembelajaran yaitu penguasaan struktur fabel, volume suara, intonasi, ekspresi, dan interaksi.

Secara bergiliran siswa menyampaikan cerita fabel seperti Kelinci yang Sombong, Monyet yang Angkuh, Rubah dan Kambing, Kancil dan Gajah, dan lainnya. Selesai bercerita, siswa diminta untuk menentukan satu karya siswa terbaik. Tiga siswa terbaik mendapat nominasi calon peserta lomba bercerita di perpustakaan daerah. (Anl)

 

 

 


comments powered by Disqus
Situs Web ini dikembangkan oleh Research Triangle Institute (RTI) International, Education Development Center (EDC), dan World Education (WE) untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama No. AID-497-C-12-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency untuk International Development atau Pemerintah Amerika Serikat. © 2012 RTI International, EDC, dan WE. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat.