FORUM FASILITATOR

Wadah berbagi inspirasi dan pengalaman bagi kepala sekolah, guru, pengawas, dosen, masyarakat, dan siswa dalam membangun sekolah yang berhasil.

Lima Langkah Pendampingan yang Efektif dalam PPL

Lima Langkah Pendampingan yang Efektif dalam PPL
Proses pendampingan yang dilakukan Ibu Widya kepada mahasiswa PPL.

Makassar, Sulawesi Selatan - Sebagai dosen pembimbing PPL (praktik pengalaman lapangan), awalnya saya memahami peran dosen pembimbing hanya untuk mencari kesalahan atau kekurangan mahasiswa ketika melaksanakan praktik mengajar di sekolah. Pemahaman tersebut berubah saat saya memasukkan makna dan peran pendampingan sebagai dosen pembimbing PPL. Inspirasi itu saya dapatkan setelah mengikuti pelatihan USAID PRIORITAS. 

Inti dari pendampingan adalah kita (pendamping) dapat membantu terdamping (mahasiswa PPL) belajar mengenali kekuatan dan kelemahan terdamping pada saat melaksanakan proses pembelajaran. Berikut lima langkah pendampingan yang saya terapkan.

1. Dosen Pendamping Memberi Penghargaan

Di awal pendampingan, saya memberikan pujian pada hal-hal positif yang menjadi keberhasilan mahasiswa. Tujuannya mahasiswa semakin termotivasi dan nyaman dengan proses pendampingan. Misalnya, ”Saya sebagai pendamping PPL sangat senang melihat cara Anda mengajar. Pada kegiatan awal saya melihat Anda mengondisikan siswa dengan cara bermain untuk membuat siswa duduk berkelompok. Di kegiatan inti ketika memberikan penugasan, Anda tidak hanya memberi penjelasan secara lisan, tetapi juga secara tertulis melalui LCD. Di lembar kerja siswa (LKS) juga sudah tampak petunjuk kegiatan sehingga siswa sangat memahami tugas yang harus dilakukannya. Kemudian pada kegiatan penutup, Anda tidak hanya menarik kesimpulan bersama-sama siswa, tetapi menggunakan media kertas yang menunjukkan siswa senang atau tidak senang, dan memberikan alasannya. Cara mengajar Anda sudah cukup bagus dan membuat siswa semangat dalam belajar.”

2. Terdamping (mahasiswa) Melakukan Sendiri Refleksi Kritis

Selanjutnya saya memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukan koreksi atau refleksi kritis dari pembelajaran yang difasilitasinya. Misalnya, “Menurut Anda, bagian mana dari pembelajaran tadi yang sudah berhasil dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki? Mengapa demikian?” 

3. Terdamping Merencanakan Sendiri Perbaikan

Pada langkah ketiga, saya memberi kesempatan pada mahasiswa untuk merencanakan sendiri perbaikan pembelajaran yang akan dilakukannya. Misalnya, “Kalau Anda akan mengajar lagi, apa yang Anda lakukan untuk mengantisipasi masalah yang sama tidak akan terjadi lagi? Mengapa hal itu Anda lakukan?”

4. Pendamping Memberikan Usul, Saran atau Mendiskusikan Hal-hal yang Dapat Meningkatkan Kualitas Pembelajaran 

Setelah mahasiswa mengeluarkan ide-idenya untuk memperbaiki proses pembelajaran, saya memberikan usul, saran, atau mengajak mahasiswa berdikusi untuk menemukan cara meningkatkan kualitas pembelajaran. Misalnya, ”Saya melihat dalam proses pembelajaran tadi Anda masih terpaku pada buku paket pembelajaran. Bagaimana kalau menggunakan media pembelajaran atau memanfaatkan lingkungan di sekitar sekolah yang dapat membantu siswa lebih memahami materi pembelajaran dan memperkaya siswa dengan sumber informasi lainnya.”

5. Mengembangkan Rencana Tindak Lanjut

Berdasarkan langkah keempat, saya memberi kesempatan mahasiswa untuk memaparkan rencana tindak lanjutnya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Misalnya, apa yang perlu Anda lakukan untuk selanjutnya?

Dengan pendampingan ini, mahasiswa menjadi menyadari kemampuannya sendiri, termotivasi untuk melakukan perbaikan, serta melakukan pengembangan  berdasarkan gagasannya sendiri, bukan paksaan dari pendamping.

Widya Karmila Sari Achmad, dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Makassar Pemahaman tersebut berubah saat saya memasukkan makna dan peran pendampingan sebagai dosen pembimbing PPL. Inspirasi itu saya dapatkan setelah mengikuti pelatihan USAID PRIORITAS. 

Widya Karmila Sari Achmad, dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Makassar


comments powered by Disqus
Situs Web ini dikembangkan oleh Research Triangle Institute (RTI) International, Education Development Center (EDC), dan World Education (WE) untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama No. AID-497-C-12-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency untuk International Development atau Pemerintah Amerika Serikat. © 2012 RTI International, EDC, dan WE. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat.