Peta Pengunjung
widgets


Belajar Aktif dengan Model Berpetualang
Siswa SMPN 11 Kota Bogor teribat aktif dalam proses pembelajaran IPS di bawah asuhan Pak Trisno Widodo. Proses pembelajaran ini merupakan penerapan model pembelajaran ‘Berpetualang’ yang digagas oleh Pak Trisno. Pada prinsipnya, model pembelajaran ini merupakan pengembangan model pembelajaran aktif-kooperatif dengan pendekatan kontekstual.

USAID PRIORITAS - Bogor, Jawa Barat. Memang saat ini sudah banyak ragam model pembelajaran yang diterapkan di kelas, termasuk model pembelajaran kooperatif. Sayangnya, pembelajaran kooperatif sering dipahami hanya sebagai duduk bersama dalam kelompok. Siswa duduk berkelompok tapi tidak saling berinteraksi untuk saling membelajarkan. Siswa duduk berkelompok tapi bekerja individu.

Saya mencoba mengembangkan model pembelajaran kooperatif di luar kelas. Apalagi saya mengajar IPS di kelas VIII-G pada jam ke 5-6, waktu belajar ketika kondisi siswa sudah tidak “segar” lagi. Terlebih dahulu saya menyiapkan bahan berupa 10 pertanyaan pada materi “Pelaku Ekonomi.” Selanjutnya 10 pertanyaan itu digunting satu persatu dan ditempelkan pada kertas karton. 

Pada istirahat pertama,  kesepuluh kertas karton yang berisi pertanyaan diletakkan tersebar di sudut sekolah.  Ada yang disematkan di tiang bendera, ada yang di tangga kelas, dan ada pula di bawah pot koridor sekolah.  

Selanjutnya saya masuk kelas VIII-G. Seperti biasa, saya melakukan kegiatan pembukaan dalam pembelajaran, antara lain menyampaikan tujuan pembelajaran, melemparkan beberapa pertanyaan tingkat tinggi yang menggiring pada pencapaian tujuan dan memperkenalkan model pembelajaran berpetualang kepada siswa. Siswa lalu dibagi dalam kelompok dan diberi tugas membaca buku paket tentang pelaku ekonomi selama 10 menit. Sebenarnya saat pertemuan yang lalu siswa juga telah diberi tugas membaca buku paket tentang pelaku ekonomi di rumah. 

Selesai membaca buku paket, siswa secara berkelompok diberi tugas untuk mencari pertanyaan-pertanyaan yang telah disebar di lingkungan sekolah dan menjawabnya pada kertas yang telah disiapkan. Siswa hanya diberikan tugas menjawab 10 pertanyaan yang dibuat. 

Kegiatan mencari pertanyaan dalam area sekolah saya namakan model pembelajaran berpetualang. Kesempatan untuk berpetualang saya beri waktu 40 menit. Suasana menyenangkan tampak ketika para siswa menghadapi tantangan untuk menemukan soal-soal yang ”disembunyikan” di lingkungan sekolah. 

Dalam pembelajaran ini ada suasana kebersamaan dan bekerjasama memecahkan masalah. Siswa mendapatkan soal kemudian secara berkelompok menjawabnya dan mencari lagi soal dan menjawabnya kembali. Kegiatan itu berjalan terus sampai selesai. Setelah 40 menit berlalu, siswa dipersilahkan kembali lagi ke kelas. 

Saat presentasi, setiap kelompok yang dapat menemukan 10 pertanyaan dan telah menjawabnya diberikan kesempatan pertama untuk melakukan presentasi kelompok. Giliran presentasi kedua adalah bagi kelompok yang dapat menemukan dan menjawab 9 pertanyaan, dan seterusnya. Urutan presentasi didasarkan pada kinerja kelompok (* lihat kotak di bawah). 

Dalam presentasi kelompok, siswa diberi kesempatan menilai hasil presentasi kelompok lain.  Agar dalam presentasi seluruh siswa tetap fokus dalam pembelajaran, di sela-sela presentasi kelompok diberikan ice breaking. 

Pada akhir proses kegiatan belajar diadakan refleksi pembelajaran. Pertanyaan yang diberikan pada refleksi:

Apakah pembelajaran hari ini sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran?

Hal baru apa yang diperoleh dalam pembelajaran hari ini?

Apa manfaat belajar tentang pelaku ekonomi? 

Di akhir kegiatan, saya memberikan tugas tidak terstruktur. Tugasnya adalah mencari gambar pelaku ekonomi dalam majalah atau internet dan diberi komentar untuk dikumpulkan pekan depan.

Pembelajaran kooperatif yang saya terapkan juga memenuhi kriteria pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Para siswa saling berinteraksi, berkomunikasi, bekerjasama, dan saling menjelaskan maksud pertanyaan-pertanyaan itu. Proses pembelajaran memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan kecakapan berkomunikasi dan bekerja sama. Kecakapan itu memiliki peranan penting dalam kehidupan nyata. 

Saya juga puas melihat siswa bersikap inklusif, yakni bersikap terbuka terhadap berbagai perbedaan. Pengalaman bekerja sama dengan teman yang berbeda secara agama, suku, prestasi, atau jenis kelamin, membuat mereka mampu saling menghargai perbedaan. Pengalaman belajar tersebut mengajarkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif akan efektif bila diperhatikan dua prinsip utama. 

Pertama, ada saling ketergantungan yang positif. Jadi, semua anggota dalam kelompok saling bergantung kepada anggota yang lain dalam mencapai tujuan kelompok, misalnya menyelesaikan tugas dari guru. Kedua, ada tanggung jawab pribadi (individual responsibility). Di sini setiap anggota kelompok harus memiliki kontribusi aktif dalam bekerja sama. Penting bagi kita mempelajari beberapa bentuk pembelajaran kooperatif dan penerapan yang sebenarnya supaya kesalahpahaman tentang belajar kooperatif dalam pembelajaran dapat dihindari. 

Trisno Widodo, Guru SMPN 11 Bogor, Jawa Barat

comments powered by Disqus
Situs Web ini dikembangkan oleh Research Triangle Institute (RTI) International, Education Development Center (EDC), dan World Education (WE) untuk U.S. Agency for International Development (USAID), berdasarkan perjanjian kerjasama No. AID-497-C-12-00003. Informasi yang disajikan dalam Situs ini bukan informasi resmi Pemerintah Amerika Serikat dan tidak mewakili pandangan atau kedudukan U.S. Agency untuk International Development atau Pemerintah Amerika Serikat. © 2012 RTI International, EDC, dan WE. Hak cipta dilindungi, kecuali hak-hak untuk kepentingan Pemerintah Amerika Serikat.